IMG20150812002

Seminar Regional Pascasarjana STAIN Watampone 2015 (UTIPD/12/8/2015)

        Seminar Regional Pascasarjana STAIN watampone diadakan Rabu, menghadirkan narasumber Pertama: Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA., Beliau Guru besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dengan tema ” Peran  Keluarga dalam pembangunan bangsa Indonesia “, Kedua: Prof. Dr. H. A. Sarjan, MA, beliau adalah Direktur Pascasarjana serta Guru Besar STAIN Watampone dengan tema “Metodologi Fikih Muhammad Syahrur Tentang Poligami Porsi Hak Waris Laki-Laki dan Perempuan”. Seminar dibuka secara langsung oleh Ketua STAIN Watampone Prof. Dr. H. Haddise, M.Ag. (12/8/2015)

     Menurut Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA bahwa sebelum membangun keluarga haruslah mempersiapkan mental menuju ke-kehidupan tersebut, beliau juga mengatakan tak jarang banyaknya keluarga yang tidak harmonis dikarnakan mental yang belum siap, jikalau seorang yang yang siap mental maka kesejahtraan serta sakinah yang sesuai dalam undang-undang tujuan pernikahan adalah agar terciptanya kehidupan sakinah, mawaddah, dan warahmah dapat tercapai. beliau juga menyinggung perlunya peran suscatin (kursus calon pengantin) yang di KUA perlu dioptimalkan. sedangkan Prof. Dr. H. A. Sarjan, MA mengatakan perlunya pemikiran fikih kontemporer dalam bagi mahasiswa pascasarjana, dalam materinya Poligami dan Hak waris dilihat dari Metodologi Fikih Muhammad Syahrur. 1). Poligami Muhammad Syahrur menghilangkan pengaruh budaya patriarki sehingga laki-laki tidak lagi menempati posisi terkuat terhadap perempuan. Menurutnya, poligami adalah perintah syara’ yang bertujuan mengangkat harkat perempuan single parent. Pemikiran Syahrur tentang poligami berdasarkan tafsir menurut munasabah ayat dan nazariyat al-hudud (teori batas), Syahrur tidak menganut pemahaman poligami secara parsial normatif. 2). Pemikiran kewarisan antara laki-laki dan perempuan, terutama anak-anak simayit yang terdiri atas laki-laki dan perempuan telah menempatkan anak laki-laki superior dan anak perempuan inferior. Menurut Syahrur, mereka memiliki hak porsi masing-masing, tidak saling mempengaruhi, sehingga baginya tidak mengenal teori ashabah. Teori Muhammad Syahrur terbangun secara nashih, linguistik, scientifik dan matematik. Muhammad Syahrur menolak ketidakadilan yang terjadi antara hak porsi laki-laki dan perempuan 2:1 dengan memberlakukan prinsip ini secara langsung umum. menurutnya, prinsip ini hanya berlaku pada ayat 176 tentang kondisi saudara pewaris kalalah. prinsip ini tidak berlaku pada ayat 11 surah An-Nisa’.
(UTIPD-STAIN Watampone 2015)

UINsy-U20120504-16-prof._khoir

Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA

20140712_093429

Prof. Dr. H. A. Sarjan, MA

IMG20150812014

suasana seminar regional pascasarjana STAIN Watampone 2015 (UTIPD/12/8/2015)

IMG20150812009

UTIPD-2015

IMG20150812004

UTIPD-2015